cerita ini berkisahkan tentang Queena Radbert, seorang wanita berusia 25 tahun yang hidupnya harus berubah saat dijodohkan dengan Aaric Bardolf, seorang CEO Bardolf.Co yang usianya lebih dari 50 tahun. cerita ini murni dari hasil pemikiranku sendiri, jadi mohon dengan sangat untuk tidak mengcopynya ya . :)))
#romance #fiction #angst #metropop #novel #abal-abal #cerita #catatan #coretan
Prologue
There’s no such a happy ending in this
life.
Aku masih ingat dengan kata-katanya itu. Dan mungkin hal
itu memang tak separuhnya salah. Aku tidak akan pernah tahu bagaimana akhir
dari hidupku nanti. Apakah akan menjadi seperti cerita-cerita di
negeri dongeng yaitu “Happily ever after”
atau akan menjadi sebuah cerita tragis dengan “Bad ending”? Aku
benar-benar tidak akan pernah tahu.
Kenapa hal ini harus terjadi padaku? Aku sangat
tidak memiliki kuasa apapun tentang hidup atau bahkan cinta. Hanya Dia yang
mengatur akan bagaimana hidupku nanti. Aku hanya berharap untuk bisa selalu di
dekatnya walaupun itu berarti aku harus menyakiti diriku sendiri.
Chap
1
Another boring day. Bagiku,
hari-hariku selama ini benar-benar membosankan. Dari rumah ke kantor, dan dari kantor ke rumah, selalu
seperti itu setiap harinya. Sedangkan hari libur, biasanya aku menghabiskan
waktu di tempat kost - karena sudah terlalu lelah dengan rutinitas kantor yang
sangat sibuk, atau kadang bermain bersama teman-temanku - jika mereka masih
ingat kalau aku adalah teman mereka. Gosh,
kapan aku akan keluar dari lingkaran membosankan ini?
Dan di sini lah diriku sekarang. Berada di depan komputer
yang memuakan. Bertumpuk-tumpuk berkas ada di sisi kiri di atas meja kerjaku,
menunggu untuk diselesaikan. Aku hanyalah seorang karyawan yang bekerja di
sebuah perusahaan swasta asing sebagai staff administrasi. Bahkan pekerjaanku
saja membosankan.
Bukannya aku tidak mensyukuri akan pekerjaanku, hanya
saja ini tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Yang aku inginkan adalah
menjadi seorang wanita karir yang bisa berinteraksi dengan orang banyak,
bertemu dengan client untuk meeting, breakfast di Indonesia, lunch di Singapur,
dan dinner di Thailand, juga memakai pakaian kerja yang bagus dan menenteng tas
branded. Konyol memang, tapi seperti itulah pekerjaan yang aku inginkan.
Mungkin karena aku terlalu banyak menonton drama dan film jadi aku banyak berkhayal.
“Inah!! Laporan penjualan bulan kemarin sudah dikerjakan
belum?”
Yang memanggil namaku tadi adalah Nathalie, dia adalah
seniorku di kantor yang sangat aku ‘cintai’. Aku memutarkan bola mataku saat
dia memanggilku dengan sebutan Inah lagi. Sebenarnya namaku adalah Queena,
hanya saja si sinting Nathalie itu dengan seenaknya mengganti namaku menjadi
Inah.
“I’m on it, Nath. Akan ku serahkan
laporannya padamu nanti.” Jawabku
sambil terus fokus pada komputerku agar tidak usah bertemu pandang dengannya.
Nathalie,
another thing that makes my work life
sucks. Nathalie itu orang yang
sangat tidak bersahabat dan menyebalkan. No
offense, tapi memang kenyataannya seperti itu. Berterima kasihlah pada
sikapnya yang jutek dan semena-mena pada semua junior wanita yang makin
menambah sifat buruknya itu. Ah, dan jangan lupa sikap ganjennya pada semua
pria, seperti wanita murahan saja kalau dilihat-lihat.
Aku masih berkutat dengan berkas-berkas yang menggunung
itu. Hari ini sepertinya aku harus lembur lagi. Aku hanya bisa menghela nafas
panjang. Bisa-bisa aku jadi perawan tua kalau selalu melembur di kantor. Ya,
aku bahkan belum punya kekasih yang bisa mengkhawatirkan aku saat aku pulang
larut malam, atau yang bisa aku jadikan pelampiasan untuk menceritakan semua keluh
kesahku. Percaya atau tidak, di usiaku yang sudah seperempat abad ini aku belum
sama sekali merasakan yang namanya memiliki kekasih. Entah karena apa, mungkin
karena aku yang selalu menyibukan diri sendiri dan jarang berinteraksi dengan
orang banyak kecuali dengan teman-temanku, yang pasti bukan karena wajahku atau
penampilanku.
Bisa dibilang aku cukup menarik, dengan rambut panjang
hitam lurus, badan yang cukup langsing, dan kulit kuning langsat, cukup untuk
membuat para kaum adam terpesona. Bahkan waktu SMA aku sering menjadi model
untuk pamflet-pamflet sekolah yang digunakan untuk mempromosikan sekolahku.
Lantas mengapa sampai detik ini aku masih belum memiliki kekasih? Ingin rasanya
aku berteriak keliling ruangan sambil mengacak-acak semua barang di kantor ini.
Karena ku pikir, kantor inilah yang membuat diriku menjadi susah untuk bergaul
karena jam kerjanya yang bisa dibilang eksploitasi ini.
Tiba-tiba
aku merasakan pening di kepala memikirkan ini semua. Aku pun beranjak ke pantry
untuk sekedar membuat coklat panas untuk sedikit meredakan sakit kepalaku.
Sebenarnya aku bisa saja menyuruh office
boy untuk membuatkanku coklat panas, tapi aku butuh istirahat sedikit untuk
bisa fokus kembali pada pekerjaanku lagi. Aku pun terdiam di pantry sambil
sesekali menyesap coklat panasku.
Saat
sedang meninkmati coklat panasku, tiba-tiba aku merasakan smartphone-ku bergetar di saku blazerku. Aku ambil smartphone-ku
dan melihat ada sms masuk dari ibuku.
‘Queenee,
kapan kamu akan mengunjungi orang tuamu ini? apakah kamu sudah lupa kalau kamu
masih punya orang tua?????!!!’
Begitulah
isi sms Mom, begitulah aku memanggil ibuku. Aku memang sudah 6 bulan lebih
tidak mengunjungi keluargaku yang tinggal di kota lain. Padahal jaraknya hanya
2 jam perjalanan. Tapi aku sangat malas untuk pulang ke rumah. Alasannya adalah
karena aku sudah jengah sekali dengan bahasan ‘kapan nikah’ yang terus-terusan
ditanya oleh mereka jika aku ada di rumah. Siapa sih yang tidak ingin menikah? Aku pun sangat ingin
menikah. Hanya saja, aku tidak tahu kapan calon suami aku akan muncul di
hadapanku.
Sambil
masih menyesap coklat panasku, aku membalas sms Mom tersebut.
‘Maafkan aku, Mom. Pekerjaan ku sedang banyak sekali. Aku
jadi belum sempat mengunjungi kalian. Nanti jika aku dibolehkan untuk cuti, aku
akan memberikan mu kabar. Love You’
Tanpa menunggu balasan dari ibuku, aku langsung memasukan
kembali smartphone-ku ke saku dan
menenggak habis coklat panas yang sudah tidak begitu panas lagi. Aku pun
langsung menuju ke meja kerja ku untuk berkutat kembali dengan pekerjaanku.
Saat keluar dari pantry, aku melihat Nath sedang menggoda
Axel di depan pintu masuk ruangan admin. Aku kembali memutar bola mataku. Si
wanita murahan itu masih saja menggoda Axel yang sudah jelas-jelas
mengabaikannya. Bicara tentang Axel, dia adalah teman ku, lebih tepatnya teman
baik ku di kantor. Sebenarnya aku sedikit memiliki ketertarikan padanya. Hanya
saja dia itu orang yang benar-benar tidak peka. Beginilah jika kamu bersahabat
dengan lelaki, kamu tidak akan bisa memilikinya apabila kamu menyukai mereka.
Aku pun berjalan menuju meja kerjaku dengan muka yang
sudah sangat tidak bersahabat. Axel yang melihatku langsung berdiri dan
menghampiri diriku. Nath lalu menunjukkan muka sinisnya padaku. Aku
membalas dengan tatapan ‘have a problem
with me?’, sambil tersenyum meremehkan. Mungkin dia jealous karena aku dekat dengan Axel.
Axel,
masih dengan wajahnya yang tampan, rambut hitamnya yang sedikit kusut, juga
badannya yang tegap – yang mebuatku jadi ingin memeluknya - , segera menarik
tanganku dan membimbingku keluar ruangan. Axel terlihat tergesa-gesa seperti ingin membicarakan
sesuatu.
“Hei, Axel. Chillax.
Sebenarnya ada apa?” Tanyaku sambil berusaha menyeimbangkan langkahku
dengannya. ‘Hello, I’m wearing
high heels now?!!’ teriakku dalam hati.
“Aku
harus menunjukkanmu sesuatu, melihat sikapmu yang sepeti ini sepertinya kamu
belum mengetahuinya.” Aku mengernyitkan keningku saat mendengar perkataan Axel.
Sebenarnya ada hal penting apa sampai-sampai dia terlihat berlebihan seperti
ini?
.
.
Axel berhenti di depan papan pengumuman, dan aku
terheran. Jadi sedari tadi dia tergesa-gesa untuk memperlihatkan pengumuman
liburan kantor?
“Axel, kamu menarikku kesini hanya untuk menunjukkan
bahwa liburan tahun ini ke Eropa?” Kataku sambil menujukkan muka heran padanya.
“Bukan itu, lihat pengumuman ini?” Ucap Axel yang
terlihat sedikit frustasi.
Aku masih menatap Axel dengan pandangan
heranku baru kemudian menatap pengumuman yang ditunjuk oleh Axel. Seketika
waktu terasa berhenti dan mataku membulat sempurna saat melihat pengumuman
itu. Pantas saja Axel benar-benar seperti orang yang kesetanan tadi.
"Queena, kamu tidak apa-apa? Aku sudah
menyangka reaksimu akan seperti ini" Axel bertanya dengan suara yang
sedikit cemas. Sedangkan aku masih berusaha untuk mencerna apa maksud dari
semua ini.
"Axe, apa maksudnya ini? Aku bahkan
tidak dikonfirmasi dulu sebelumnya." Tanyaku pada Axel. Axel menjawab
pertanyaanku dengan mengangkat bahu tegapnya.
"Memangnya Mrs. Claire belum
memberitahumu jika kamu akan menjadi sekretaris direktur?" Aku hanya
menggeleng menjawab pertanyaan Axel.
"Belum, aku bahkan tidak yakin Mrs.
Claire sudah tahu hal ini. Jika dia tahu, dia tidak
akan mungkin tidak memberitahuku."
Kami berdua masih berdiri terpaku di depan papan pengumuman itu
dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya aku yang tenggelam dalam
pikiranku, Axel hanya menemaniku termenung di depan papan itu. Aku? Sekretaris direktur? Mengapa bisa?
Bahkan aku tidak pernah menginjakkan kaki di lantai tempat ruangan direktur
berada. Aku bahkan bukan lulusan dari akademi sekretaris. Lantas, mengapa aku
bisa terpilih menjadi sekretaris direktur? Jabatan itu hanya bagi wanita-wanita
terpilih yang benar-benar harus memiliki kompetensi dan spesifikasi yang sangat
baik.
"Axe, I really don't
have an idea with this situation." Axel mengangguk tanda
mengerti.
"Yeah, I know. You'd tell me if you knew it."
Axel kemudian merangkul bahuku kemudian melanjutkan perkataannya,
"Sepertinya kamu harus mengkonfirmasi pada Mrs. Claire. Ayo, kita kembali
ke ruanganmu."
Kami pun akhirnya menuju ke ruangan admin kembali. Axel hanya mengantarku sampai ke depan
ruanganku sebelum dia kembali ke ruangannya di lantai 3. Aku berjalan dengan
sedikit linglung. Masih berusaha mencerna akan apa yang sedang terjadi ini. Aku
pun langsung menuju ruangan Mrs. Claire untuk mengkonfirmasi hal tersebut.
Mrs. Claire, yang merupakan supervisor ku, sedang duduk membelakangi
meja dan menelepon seseorang. Aku menunggu Mrs. Claire di
depan pintu ruangan sambil memilin jari-jariku. Kebiasaan saat aku sedang berpikir, pasti aku
melakukan hal itu. Tak lama kemudian, Mrs. Claire
membalik kursinya dan meletakan telepon kembali ke tempatnya. Sesaat Mrs.
Claire sempat terkaget melihatku yang berdiri di depan ruangannya, namun Mrs.
Claire kemudian tersenyum dan menyuruhku untuk duduk di kursi di depannya.
"Honey, apakah kamu
kesini untuk menanyakan perihal pengumuman itu?" Tanyanya dengan lembut.
Aku mengangguk dan kemudian duduk di kursi
yang dia tunjuk tadi. "Mengapa tidak ada konfirmasi apapun sebelumnya
padaku, Mam? Dan, kenapa mendadak sekali?" Tanyaku kemudian.
Mrs. Claire menghela nafas sejenak sebelum
kemudian menjawab, "Aku pun baru diberi tahu hari ini. Dan aku sama
terkejutnya sepertimu, Queen. Tapi itu permintaan dari direktur langsung dan
aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Mam, aku bahkan tidak pernah berinteraksi
dengan direktur sebelumnya, dan aku pun bukan lulusan dari akademi sekretaris
dan memiliki pengalaman di bidang itu, lantas mengapa dia memilihku?"
Suaraku benar-benar terdengar seperti orang yang frustasi saat ini.
"Like I said before,
Queen. Aku pun tidak tau apa-apa tentang keputusan itu. Dan saat aku bertanya
alasannya mengapa, Mr. Nathan tidak mengatakan apa-apa." Mr. Nathan adalah
manager kami. Eksperesi Mrs. Claire benar-benar menunjukkan bahwa dia
mengatakan hal yang sebenarnya.
"Okay baiklah. Mungkin aku akan menanyakan langsung padanya
nanti," walaupun aku sebenarnya tidak yakin dengan perkataanku itu.
"Dan, mulai kapan aku pindah?"
"Sampai kamu menyelesaikan hutang pekerjaanmu. Setelah itu kamu harus langsung pindah.
Kira-kira kapan kamu akan menyelesaikan pekerjaanmu, Honey?" I'm gonna miss
the nickname, kebaikan Mrs. Claire sebagai atasan benar-benar tidak ada
yang menandingi. Dia menganggap semua staff yang dibawahnya seperti anak
sendiri.
"Aku bisa menyelesaikannya hari ini.
Tetapi aku masih membutuhkan waktu untuk mencerna ini semua dan mungkin untuk
mempelajari hal-hal tentang kesekretarisan. Jadi, bisakah kamu memberiku 3 hari
untuk mempersiapkan semuanya?" pintaku. Dan kulihat Mrs. Claire mengangguk tanda menyetujuinya.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan Mr. Nathan bahwa
kamu baru bisa siap 3 hari lagi."
Aku kemudian keluar dari ruangan Mrs. Claire, berniat
untuk meneruskan pekerjaanku yang tertunda tadi. Namun, aku masih tidak bisa
berpikir jernih sekarang. Yang aku pikirkan bukanlah pekerjaan itu, namun
bagaimana bisa aku terpilih untuk mengerjakan pekerjaan itu? Bukannya aku ragu
dengan kemampuanku sendiri, hanya saja masih banyak karyawan lebih pantas dari
pada diriku.
Sesampainya di meja kerja, smartphone-ku kembali bergetar. Aku pun lalu merogoh saku dan
mengambilnya. Sudah benar-benar merasa annoyed
dengan semua yang terjadi, aku berharap sms ini tidak membuat diriku semakin
muak. Dengan
cepat aku melihat pesan tersebut yang ternyata dari Mom. Kembali, aku memelototkan
mataku saat membaca pesan tersebut. What
exactly is going on today?!!!
‘Kamu ini, pekerjaan saja yang ada di pikiranmu. Karena
kamu malah sibuk dengan pekerjaan mu saja, Mom berinisiatif untuk memasukanmu
ke biro jodoh milik teman Mom, dan sepertinya ada seseorang yang tertarik
denganmu. Nanti Mom akan ceritakan lebih jelasnya padamu saat tiba di tempat
kost mu. Sampai bertemu sore nanti. Selamat berkerja dear.‘
Seketika aku rasanya ingin membanting smartphone-ku. Namun, alih-alih
membanting smartphone itu, aku malah
langsung mengacak rambutku frustasi.
Chap 1 is out. gimana gimana?
garing ya novelnya?
saran dan kritik sangat terbuka di sini.
tolong komen ya
thanks #smooch
see ya on the next chap
No comments:
Post a Comment